|
MENJADI MANUSIA YANG EFEKTIF (Belum tahu penulisnya)
Arti efektif mungkin berbeda dengan efektif yang dimaksud Covey. Secara tradisional, efektif didefinisikan sebagai tercapainya tujuan. Namun, menurut Covey, penulis buku, ”7 Habits of Highly Effective People”, tindakan efektif didefinisikan lain. Menurutnya, tindakan efektif terjadi bila kemampuan yang dimiliki seimbang dengan hasil yang dicapai. Tercapainya setiap tujuan harus disertai dengan keseimbangan sehingga kunci efektif adalah pada “keseimbangan”. Tiap orang tentu ingin tindakannya efektif dan hidupnya seimbang. Ia ingin hidupnya dapat melakukan peranannya dengan sempurna. Namun, pada kenyataannya banyak yang mengalami kesulitan melakukan perannya secara seimbang. Peran itu bermacam-macam tergantung luas lingkaran hidup yang ia miliki. Yang pasti, ia memiliki peran dalam keluarga sebagai orang tua. Peran yang lain sebagai pengurus organisasi sosial, agama, budaya, dan lain-lain. Dengan tuntutan yang bermacam-macam, serta waktu yang amat sedikit, apakah semua peran dapat dijalankan secara seimbang? Program 7 Habits adalah memadukan skill dan karakter secara seimbang yang dimulai bukan dari melatih skill, melainkan dari pembentukan karakter. Karakter hanya dapat dibentuk melalui pembiasaan atau habit. Pembentukan karakter memerlukan waktu yang lama dan memperhatikan tujuh prinsip habits sebagai berikut.
1. Sikap proaktif bukan reaktif Seseorang menjadi penanggung jawab utama tindakannya” Ia adalah programmer perilakunya sendiri,” kata Covey mengiaskan. Sebagai manusia kita bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Perilaku kita adalah fungsi dari keputusan kita. Kita dapat menomorduakan perasaan sesudah nilai. Orang yang proaktif dapat mengatur cuaca mereka sendiri. Entah hari hujan atau cerah tak ada bedanya bagi mereka. Orang ini diberi kebebasan untuk memilih respons, tak ditentukan oleh stimulus lingkungannya. Tindakan yang mereka keluarkan bukan hasil dari situasi perasaannya atau kondisi sekitarnya. Jika ada orang berlaku menyebalkan terhadapnya, ia tak demikian saja mengikuti stimulus itu, lalu marah. Bisa saja ia mengambil respons lain ”mendiamkan saja dan bersabar”. Bisa saja ia menjadi bahagia tanpa tergantung cuaca sedang mendung atau cerah. Mereka menjadi lebih banyak akal, rajin, kreatif, dan lebih mau bekerja sama. Orang proaktif tidak suka memaksa. Mereka cerdik, digerakkan oleh nilai, membaca realitas, dan tahu yang dibutuhkan. Sebaliknya, orang yang reaktif sering dipengaruhi olah lingkungan fisik mereka. Jika cuaca bagus, mereka akan senang. Jika tidak, cuaca itu mempengaruhi sikap dan prestasi mereka. Orang yang reaktif juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial mereka. Ketika orang memperlakukan mereka dengan baik, mereka menjadi defensif atau protektif. Orang yang reaktif membangun kehidupan emosional mereka di sekitar perilaku orang lain, memberi kekuatan pada kelemahan orang lain untuk mengendalikan mereka. Sifat dasar orang reaktif adalah untuk membebaskan diri mereka dari tanggung jawab.
2. Memulai dari ”Akhir” Memulai dari akhir berarti memulai dengan pengertian yang jelas. Ini berarti mengetahui ke mana Anda akan pergi sehingga Anda lebih baik mengerti di mana Anda sekarang. Dengan demikian, Anda mengetahui langkah-langkah yang Anda ambil selalu berada pada arah yang benar. Hal ini merupakan latihan untuk memimpin diri sendiri. Dalam memulai segala kegiatan tujuan akhirlah yang lebih dahulu dipancangkan sehingga arah kegiatan menjadi jelas dan cara-cara pencapaiannya bisa ditentukan lebih terarah. Kredo ini selalu digaungkan oleh B.J. Habibi ketika mengenalkan produk pesawat terbangnya. Orang-orang yang efektif sadar sepenuhnya bahwa semua hal diawali dari ”niat” dalam dirinya. Mereka lalu menciptakan misi dalam hidupnya. Mereka memperjelas nilai-nilai yang harus diperjuangkan. Selanjutnya membuat prioritas tujuan mana yang harus lebih dahulu dicapai.
3. Utamakan yang Paling Utama Ini merupakan latihan manajemen diri. Prosesnya melibatkan manajemen waktu dan aktivitas yang harus dilalui. Waktu dan kegiatan biasanya dibagi berdasar dari tingkat kepentingan dan tingkat urgensinya. Secara umum, keduanya dikelompokkan menjadi kegiatan penting dan mendesak, penting tapi tidak mendesak, tidak penting tapi mendesak, dan tidak penting dan tidak mendesak. Menurut Covey, kebanyakan orang membuang waktunya dalam kegiatan yang mendesak tapi tak penting. Misalnya, interupsi telepon, membaca dan membalas surat laporan, atau kegiatan-kegiatan yang sifatnya ”populer ”saja. Hal – hal yang mendesak sering menyita sebagian besar waktu bahkan sering orang dipaksa menanggapinya. Untuk menangkalnya, menurut Covey, Anda mesti mengambil sikap proaktif. Katakan ”tidak” pada hal-hal yang tidak penting dan katakan ”ya” pada hal-hal yang lebih penting, sekalipun tak mendesak. Ingat, banyak orang penting yang membutuhkan waktu dan perhatian Anda. Itu bisa berupa memperhatikan anak-anak, pasangan, menyapa karyawan atau lainnya. Memperhatikan mereka sering mempunyai dampak panjang yang berarti. Orang sukses mempunyai kebiasaan mengerjakan hal-hal yang orang gagal tidak suka mengerjakannya dan tidak harus suka mengerjakan hal-hal itu. Akan tetapi, ketidaksukaan mereka tunduk pada kekuatan tujuan mereka. Kebanyakan orang mengatakan kesalahan utama mereka adalah kurangnya disiplin. Prioritas mereka belum tertanam di dalam hati dan pikiran mereka. Mereka belum benar-benar menghayati dua kebiasaan di atas. Di dalam manajemen waktu, ditangkap satu frasa: Organisasikan dan laksanakan menurut prioritas.
4. Tak ada Yang Kalah, Menang VS Menang Menang VS Menang adalah kerangka pikiran dan hati yang terus menerus mencari keuntungan bersama di dalam semua interaksi manusia. Menang VS Menang berarti bahwa kesepakatan atau solusi memberikan keuntungan dan kepuasan yang timbal balik. Dengan solusi Menang VS Menang, semua pihak merasa senang dengan keputusannya dan merasa terikat dengan rencana tindakannya, melihat kehidupan sebagai arena kooperatif, bukan kompetitif. Kemenangan publik berarti bekerja sama, berkomunikasi bersama, membuat segalanya terjadi bersama yang bahkan orang-orang yang sama tidak dapat membuatnya terjadi dengan bekerja sendiri-sendiri. Ini merupakan prinsip latihan kepemimpinan antarindividu. Dalam dunia usaha dan keluarga, efektivitas hanya dicapai bila ada kerja sama yang baik antarindividu. Sikap Menang VS Menang, adalah cara untuk mencapai keadaan saling menguntungkan. Jangan harap rekan kerja atau bawahan Anda akan kooperatif, jika Anda membuatnya merasa kalah, salah atau terpojok. Cara berpikir Menang VS Menang dimulai dengan komitmen untuk melihat segala alternatif yang tersedia. Selanjutnya, memilih beberapa yang menguntungkan kedua pihak. Jika tak ada yang memungkinkan, tak usah adanya perjanjian untuk bekerja sama. ” Win- Win or no deal at all,” ungkap Covey, sebab jika diteruskan sudah pasti hubungan yang dibina akan retak di tengah jalan.
5. Mencoba Mengerti Lebih Dahulu, Baru Dimengerti Ini merupakan latihan untuk membiasakan komunikasi dengan baik. Sekaligus merupakan kunci untuk membina hubungan Menang VS Menang. Komunikasi adalah keterampilan paling penting di dalam kehidupan. Bukankah dokter selalu lebih dahulu mendiagnosa sebelum memberi resep? Jadi, faham dahulu apa keinginan lawan bicara, baru sampaikan maksud Anda sendiri. Kadang-kadang orang melihat dunia sesuai dengan persepsi masing-masing. Tidak sebagaimana adanya. Untuk bisa berkomunikasi dengan baik, orang harus lebih dahulu bisa memahami orang lain, melihat dunia dengan kaca mata lain. Untuk ini, Anda harus dapat mendengarkan dengan penuh empati (suatu hal yang sangat sulit dan membutuhkan pembiasaan). Empati bukanlah simpati. Simpati adalah semacam kesepakatan, semacam penilaian, kadang merupakan emosi dan respons yang lebih sesuai. Akan tetapi, orang sering hidup dari simpati sehingga membuat mereka tergantung. Berbeda dengan empati. Empati bukanlah Anda setuju dengan seseorang, tetapi Anda mengerti orang lain sepenuhnya, secara mendalam, emosional, dan sekaligus intelektual. Nasihat apapun tak akan ada gunanya bagi rekan atau bawahan bila maksud mereka belum kita pahami. Yang mesti diberikan pertama-tama adalah ”fahami dia” baru kemudian Anda bisa memberikan masukan, bahkan mempengaruhinya.
6. Sinergi Sinergi adalah intisari dari kepemimpinan yang berpusat pada prinsip. Sinergi adalah intisari dari keorangtuaan yang berpusat pada prinsip. Sinergi berfungsi sebagai katalisator, menyatukan, dan melepaskan kekuatan terbesar di dalam diri manusia. Sinergi merupakan pendekatan untuk pemecahan masalah kelompok. Berbeda dengan ” sekedar menyenangkan atasan”, di sini dibutuhkan rasa saling menghargai. Pandangan-pandangan dalam kelompok, meskipun berlainan dibicarakan bersama. Alternatif terbaik akan muncul dari masukan yang diberikan oleh kelompok itu. Tiap orang merasa bebas untuk mencari alternatif terbaik. Tak ada istilah tekanan dari atas atau protes dari bawah. Segalanya bisa didiskusikan dengan hati tebuka. Semua berpegang pada prinsip” saling tergantung”. Orang yang merasa ” tak aman” biasanya berkelompok dengan orang-orang yang satu ide dengannya. Kesatuan, bagi mereka adalah kesamaan, keseragaman. Padahal, kesatuan sejati adalah kemampuan untuk saling melengkapi.
7. Menajamkan Diri Ini merupakan latihan untuk terus menerus memperbaharui dan meningkatkan diri. Kadang-kadang ketika sibuk bekerja, orang lupa akan keseimbangannya. Seharusnya antara kapasitas dan produksi diseimbangkan. ”Perawatan secara tekun dan rutin selalu lebih sulit dilakukan”, kata Covey. Menurut Covey, peningkatan diri ini meliputi empat dimensi sifat: fisik, spiritual, mental, sosial/emosional. Jika dilalaikan, tubuh orang akan melemah, mentalnya menjadi mekanis, emosinya tumpul, jiwanya tidak peka dan ujungnya orang itu jadi mementingkan diri sendiri. Sesibuk apapun, harus disadari bahwa diri Anda terdiri dari beberapa bagian itu. Jika ingin efektif, semuanya mesti diseimbangkan. Jelas memang tidak mudah untuk membangun karakter integritas total dan menjalani kehidupan penuh kasih dan pelayanan yang menciptakan kesatuan seperti ini. Ini memerlukan waktu dan pembiasaan, bukanlah perbaikan cepat.
Komentar Sebenarnya, prinsip-prinsip itu amat sejalan dengan nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat Jawa (mungkin juga masyarakat lain di Indonesia). Prinsip proaktif, salah satunya, hampir sama dengan nilai tanggap lan sembada, tahu apa yang diperbuat sekaligus bertanggung jawab, biasa dipakai orang Jawa. Selanjutnya, prinsip ”Tak ada yang kalah” sangat sesuai dengan nilai Menang Tanpa Ngasorake (menang tanpa merendahkan) yang dipakai saat menghadapi pertentangan dengan orang lain. Namun, sayangnya nilai-nilai ”lokal” itu di Indonesia belum ada yang membuatnya menjadi buku yang sifatnya praktis. Apalagi menjadikannya paket training utuh sehingga alangkah ironisnya, kita mesti mengimpor dari Amerika. Menurut Mochtar Lubis (1990) dalam bukunya yang kontroversial menyebutkan 19 ciri manusia Indonesia yaitu: (1) munafik (hipokrit), (2) enggan bertanggung jawab, (3) feodal, (4) percaya tahayul, (5) artistik, (6) berwatak lemah, (7) boros, (8) tidak suka bekerja keras kecuali terpaksa, (9) kurang sabar, (10) tukang menggerutu tertutup, (11) cepat cemburu dan dengki, (12) gampang senang dan bangga, (13) manusia sok, (14) tukang tiru, (15) senang bermalas-malas, (16) berhati lembut dan suka damai, (17) humoris, (18) cepat belajar dan berlatih, dan (19) penyabar. Pendapat ini ada yang kontradiktif yaitu butir 9 dengan butir 19. Koentjaraningrat (2002) juga mengatakan bahwa mentalitas bangsa Indonesia adalah: (1) meremehkan mutu, (2) suka menerabas, (3) tak percaya diri, (4) tak berdisiplin murni, (5) tak bertanggung jawab, dan (6) senang bergotong royong (kerja bakti). Budiarto Shambazy (2005) menambahkan ciri manusia Indonesia lainnya adalah: (1) senang bernostalgia, (2) cepat marah, (3) tukang lego, (4) mengutamakan gengsi, (5) pemalas, (6) konsumtif, (7) angkuh, dan (8) ahli rekayasa. Pendapat kedua pengarang ini (suka menerabas dan cepat marah) kontradiksi dengan pendapat Mochtar Lubis (penyabar). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketujuh kebiasaan Covey di atas masih sulit diterapkan di Indonesia seutuhnya karena faktor sosial, ekonomi, dan budaya Amerika berbeda dengan Indonesia. Namun demikian, dari ketujuh pembiasaan Covey ada yang telah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia antara lain: budaya gotong royong setara dengan sinergi dan penyabar, berhati lembut dan suka damai setara dengan empaty. Pemecahan masalahnya antara lain adalah menerapkan tujuh kebiasaan tersebut dimulai dari diri sendiri, dari keluarga, dan keteladanan pemimpin. Dari diri sendiri dimulai dengan dari yang mudah dan murah, misalnya disiplin waktu, sikap inovatif, bepergian harus bertujuan, menghargai pendapat orang lain, menjaga perasaan orang lain, suka dan saling membantu, dan selalu belajar. Dari keluarga, misalnya inisiatif dan inovasi untuk keluarga, memiliki visi dan misi, skala prioritas dalam berbelanja, tidak mengalahkan, bermusyawarah, saling membutuhkan, dan saling asah dan asuh. Dari keteladanan pemimpin, misalnya proaktif mengantisipasi masalah seperti mengefektifkan ketertiban dan keamanan, memiliki visi dan misi, skala prioritas dalam mengatasi masalah, kemenangan bersama dalam kerja sama, empati dalam bermusyawarah, menunjukkan kesamaan dan kebersamaan, dan menerima masukan dari anggota atau bawahan.
DAFTAR PUSTAKA Budiarto Shambazy. 2005. Manusia Indonesia. Kompas. Agustus 2005, hal. 5. Covey, S.R. 1989. The 7 Habits of Highly Effective People.New York: Rockefeller Center Koentjaraningrat. 2002. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia. Mochtar Lubis. 1990. Manusia Indonesia Sebuah Pertanggungjawaban. Jakarta: Obor Baru.
|